Sabar

Tulisan ini terinspirasi dari kisah seorang teman.

Selama empat tahun menunggu, apakah itu termasuk bersabar? Ku terus bertanya pada diriku sendiri. Mereka bilang, kesabaran akan berbuah manis, benarkah? Mungkin hal itu belum berlaku untuk diriku. Mungkin aku yang kurang mengeksplorasi arti dari sabar itu sendiri? Ya, mungkin.

Dia yang kutunggu selama empat tahun, secara tidak sadar telah membangun banyak ekspetasi dan harapan-harapan kecil nan nakal di dalam diriku. Bagaimana tidak? Aku dan dia memiliki sebuah “kisah” lucu yang manis.

Suatu hari, setelah empat tahun lamanya dia datang. Oh, mungkin kesabaran memang berbuah manis. Akhirnya, dia datang juga bukan? Ku habiskan waktu 24 jam sehariku bersamanya. Senangnya diriku sungguh tidak dapat digambarkan.  Namun, apakah rasa senangku cukup memberikannya gambaran, bahwa hatiku untuknya? Sepertinya tidak.

Siapa yang menyangka? Dia yang di damba-damba kan, dia yang di puji-puji oleh diriku, ternyata dia juga yang membuat hatiku hancur, habis, tak bersisa. Sepertinya, Tuhan menyuruhku untuk bersabar lagi kali ini.

Sabar. Benarkah selama empat tahun ini aku sudah bersabar? Atau malah sebenarnya yang kulakukan justru sebaliknya, yaitu tidak bersabar. Ketika rasa penyesalan akan kepergiannya, aku tidak bersabar memberi hatiku ruang untuk melepasnya, justru memilih untuk menunggunya. Aku tidak bersabar membiarkan hatiku memilih apa yang harus dia lakukan. Aku pun juga tidak bersabar melihat keadaan sekitar, dimana cinta-cinta yang lebih besar dari dirinya bertebaran. Aku tidak bersabar melepaskan rasa sakit dan penyesalan sehingga terus terpaku pada semua khayalan dan harapan akan dirinya. Aku tidak bersabar, sehingga mungkin aku kalah dengan perasaanku yang besar akan dirinya.  Mungkinkah seperti itu?

Banyak orang menginginkan “hal-hal” berlalu dengan cepat. Mungkin itu yang membuat aku dan orang-orang di luar sana tidak bersabar dengan apa yang harusnya terjadi. Seorang penulis pemula tidak puas dengan hasil tulisannya, karena baginya, tulisan tersebut masih tidak cukup bagus. Kemudian, dia tidak bersabar dan akhirnya berhenti menulis. Padahal, penulis handal pun dulunya tidak handal, ya, kita sering lupa akan pentingnya sebuah proses. Banyak dari kita tidak bersabar akan proses tersebut dan cepat saja menyerah, termasuk aku.

Akhirnya, penantian selama empat tahun lamanya memberiku pelajaran, bahwa mungkin Tuhan memberikan diriku banyak hal untuk bersabar agar aku dapat belajar bersabar dengan diriku sendiri. Bukan berarti untuk diam, tetapi untuk menikmati dan menerima setiap proses yang ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s